Dalam dunia keteknikan (engineering), proses konversi gambar kerja 2D (technical drawing) menjadi bentuk visualisasi 3D (Computer-Aided Design / CAD) merupakan tahapan penting yang sering kali memakan waktu. Mulai dari membaca toleransi, memahami pandangan proyeksi, hingga melakukan pemodelan ulang (re-modeling) fitur demi fitur.
Namun, dengan berkembangnya teknologi Artificial Intelligence (AI) dan kemampuan pemrosesan skrip otomatis, apakah proses ini bisa dipangkas menjadi hitungan detik?
Kali ini, kami melakukan sebuah eksperimen menarik: mengunggah gambar teknik 2D komponen shaft ke AI dan memintanya menghasilkan skrip kode Python otomatis untuk dijalankan di software FreeCAD.
Mari kita bedah alur prosesnya, hasil pemodelannya, serta evaluasi presisinya!
Alur Kerja Konversi 2D ke 3D Menggunakan AI
Proses konversi otomatis ini pada dasarnya memanfaatkan kemampuan AI dalam melakukan pengenalan gambar (computer vision) dan pemahaman dimensi geometris, kemudian mengomparasikannya ke dalam sintaks skrip makro FreeCAD (.FCMacro).
Berikut langkah-langkah eksperimen yang dilakukan:
- Upload Gambar Teknik 2D: Gambar kerja shaft lengkap dengan dimensi, toleransi, dan potongan (section view) diunggah ke platform AI.
- Generasi Skrip Python: AI diminta untuk menganalisis dimensi geometri (seperti overall length, diameter, flange, dan fitur groove) lalu menyusun kode skrip Python berbasis modul
PartDesigndanPartmilik FreeCAD. - Eksekusi Makro di FreeCAD: Kode Python yang dihasilkan oleh AI disalin ke menu Macro Manager pada aplikasi FreeCAD dan dijalankan secara langsung.
Hasil Pemodelan 3D: Seberapa Presisi Hasilnya?
Secara keseluruhan, hasil eksekusi skrip makro AI tergolong sangat impresif. Begitu skrip di-run, bentuk dasar dari shaft langsung terbentuk dalam hitungan detik.
Kelebihan yang Berhasil Dibentuk:
- Kontur Utama & Profil Shaft: AI berhasil membaca poros bertingkat (stepped shaft) dan profil flange dengan sangat presisi sesuai dimensi nominal pada gambar 2D.
- Fitur Tambahan: Chamfer dan fillets pada transisi bahu poros (shoulder) dapat tereksekusi dengan baik.
- Efisiensi Waktu: Pembuatan dasar geometri 3D yang biasanya memerlukan sketching dan revolve manual dapat dipangkas secara instan.
Catatan Evaluasi & Minor Error: Masalah Fitur Lubang (Holes)
Meski bentuk dasar poros terbentuk dengan sangat rapi, terdapat sedikit kendala pada fitur sekunder:
Minor Error: Fitur lubang baut pada flange memang terbentuk secara lingkaran, namun posisi/kedalamannya belum melakukan pemotongan (boolean cut) secara sempurna sehingga lubang-lubang tersebut belum tembus (tidak bolong).
Solusi Praktis:
Kendala ini sebenarnya sangat mudah diatasi. Pengguna hanya perlu melakukan langkah finishing sederhana di FreeCAD, yaitu memilih bidang flange dan menerapkan perintah Pocket atau Hole manual pada koordinat Pitch Circle Diameter (PCD) yang sudah di-sketsakan oleh skrip.
Kesimpulan: Apakah AI Siap Menggantikan Drafter/CAD Engineer?
Eksperimen ini membuktikan bahwa AI belum sepenuhnya bisa menggantikan peran seorang CAD Engineer secara utuh, terutama dalam memahami konteks operasi boolean 3D yang kompleks.
Namun, AI terbukti sangat efektif digunakan sebagai CAD Assistant. Dengan menggunakan skrip Python otomatis dari AI, seorang engineer dapat memangkas hingga 70-80% waktu pemodelan awal.
Key Takeaways:
- Kecepatan: Pemodelan geometri poros bertingkat menjadi jauh lebih cepat.
- Akurasi Dimensi: Pemrosesan angka parameter dimensi oleh AI cukup akurat selama gambar 2D memiliki resolusi yang jelas.
- Peran Manusia: Kontrol kualitas (quality control) dan finishing fitur kompleks tetap membutuhkan sentuhan teknis seorang profesional.

